a. Mengenal
Sosok Erna Lebih Dekat
Erna
Dyah Kristyaningrum atau lebih akrab disapa Erna “Winkle” adalah bungsu dari
empat bersaudara dari pasangan suami istri bapak Slamet Haryanto dan ibu Yenik
Setyowati. Erna, dara kelahiran asli Semarang pada 26 November 1991 silam
adalah pribadi yang ceria, fokus, agamis dan suka bercanda. Hari-harinya
dilalui dengan semangat, tetapi jika sedang suntuk dengan kesehariannya, gadis
ini lebih memilih tidur untuk mengakhiri kesuntukkannya. Erna sangat senang
berkecimpung di dunia bisnis, hal ini bisa terlihat dari hobinya yang suka
melakukan kegiatan jual-beli sejak sekolah dasar. Semakin beranjak dewasa, ide
dara satu ini semakin matang dan tekad untuk mewujudkan sebuah usaha dibawah
kaki tangannya sendiri semakin bulat. Hal ini pertama kali dilakukannya pada
waktu dia telah lulus SMA, sembari mengisi liburan pasca ujian nasional dan
pengumuman, Erna mencoba untuk main ke tempat sol sepatu dan meminta si tukang
sepatu untuk membuatkannya sepasang sepatu yang sesuai dengan keinginan
hatinya. Dari sinilah Erna mulai tertarik dengan dunia sepatu handmade yang dapat didesain sesuai
keinginan dan hasil yang memuaskan. Hal ini yang melandasi Erna untuk membangun
sebuah usaha. Erna memulai bisnis ini benar-benar dari nol, karena sejak
bertemu dengan pengrajin sepatu itulah ia mulai belajar tentang dunia sepatu.
Sebelumnya,
keluarga Erna juga pernah jatuh bangun dalam dunia perbisnisan, ayahnya seorang
pegawai pajak dan ibunya seorang PNS mencoba untuk membangun bisnis ikan lele
di daerah Tembalang, namun karena keberuntungan tak berpihak pada keluarga ini,
akhirnya bisnis ini gulung tikar dengan cepat. Tak lama kemudian, kakak
ketiganya mulai merintis juga bisnis es krim di daerah kampus UNDIP. Setelah
masuk kesalah satu perguruan tinggi negeri di Semarang, Erna masih saja
menggeluti dunia bisnis sepatu, meski dia fokus pada kuliahnya, belajar untuk
berbisnis tidak ia tinggalkan. Di kampus, Erna termasuk aktivis karena dia
mengikuti banyak organisasi seperti BEM KM, organisasi fakultas, dan HIMA
jurusan. Meskipun dia sangat sibuk dalam berbagai hal, tetapi ia tetap
memprioritaskan kuliah. Awal usaha, Erna meminjam uang sebesar Rp 800.000,00 ke
kakakknya untuk modal pertamanya, seiring berjalannya waktu, bisnis semakin
berkembang dan Erna pun meminjam lagi ke kakakknya sebesar Rp 3.000.000,00 guna
mengembangkan sayap kesuksesannya. Erna mencoba memassarkan sepatu buatannya
mulai dari lingkup terdekat seperti keluarga dan teman dekat. Tak disangka,
dalam kurun waktu tiga bulan, Erna mulai kebanjiran pesanan. Erna pun mencari partner untuk menjalankan bisnis ini.
Ditengah kebanjiran order, ayah Erna
sangat tidak setuju dengan bisnis yang tengah dijalaninya. Ia dipaksa untuk
berhenti menjalankan bisnis itu. Dengan bermodal yakin dan nekad, Erna
meyakinkan kedua orang tuanya dengan mampu membagi waktu. Dan hal ini
ditunjukkan dengan lulus tepat waktu S1 jurusan Psikologi UNDIP 2016 sembari
menikmati puncak kesuksesannya di dunia bisnis.
Dalam
sejarah perjuangan hidupnya, Erna tidak
pernah merasa malu untuk belajar dengan siapa saja tanpa memandang latar
belakang orang tersebut, dia juga tidak cepat merasa puas dengan hasil yang ia
capai. Selain itu, membagi apa yang ia peroleh dengan yang membutuhkan selalu
ia lakukan, karena ia yakin materi yang diberikan untuknya harus diamalkan agar
lebih bermanfaat. Dirinya juga menambahkan bahwa hidup harus focus dengan satu
tujuan agar tidak berantakan.
b. Kisah
Awal Mula Menjadi Pengusaha Sepatu
5
tahun yang lalu tepatnya tahun 2012 mbak Erna memulai usahanya berdagang sepatu
online. Sebelum menjadi pengusaha sepatu online, mbak Erna sudah memiliki jiwa
wirausaha semenjak masih duduk dibangku sekolah dasar. Dibangku sekolah dasar
mbak Erna berjualan binder yang dijual kepada teman-temannya yang ada
dilingkungan sekolah. Saat duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) pada
usia 15 tahun mbak Erna memulai usahanya dengan menjual makanan instant. Alasan
ia berjualan makanan instant disamping kegemarannya berwirausaha ada alasan lain yang mendorongnya untuk
berjualan yakni terhimpit biaya. Saat memasuki bangku sekolah mengah atas
(SMA), ia tidak melanjutkan kegemarannya berwirausaha karena ia fokus pada
organisasinya yakni OSIS bidang wirausaha dan menjabat sebagai sekretaris.
Sebelum usaha sepatu, keluarga mbak Erna memiliki usaha lele yang berada di
Sekaran. Tetapi belum ada satu tahun usaha yang dikelola keluarganya bangkrut.
Awal
mula menjadi pengusaha sepatu. Pada saat liburan kelulusan SMA sebelum memasuki
bangku perkuliahan, mbak Erna ‘iseng’ main-main ke sol sepatu yang berada
didaerah masjid agung Semarang. Ketika ia melihat proses pembuatan sepatu yang
dilakukan oleh pengrajin sepatu ia tertarik membuat sepatu sendiri dan belajar
membuat sepatu langsung dari pengrajin sepatu tersebut. akhirnya ia memutuskan
untuk berwirausaha berdagang sepatu satu tahun setelah lulus SMA. Usaha sepatu
yang ia dirikan berawal dari nol. Ketika sudah mulai masuk dunia perkuliahan ia
sempat kesulitan untuk membagi waktu antara berwirausaha dan berorganisasi
(BEM, organisasi fakultas, dan HIMA). Karena ia masih seorang pelajar jadi
prioritas utamanya adalah kuliah dan prioritas kedua adalah berwirausaha. Modal
awal yang ia keluarkan sekitar 800 sampai 3 juta. Modal awal tersebut ia
dapatkan dari saudaranya. Awal pembuatan ia membuat 10 pasang sepatu, dan model
sepatu berasal dari pengrajin sepatu. Pemasaran awal melalui teman ke teman dan
saudara. Dengan cara melihatkan salah satu sampel foto sepatu yang ia produksi
kepada teman-temannya dan saudaranya. Lambat laun orderan naik pesat ketika
mbak Erna memasarkan produknya secara online. Karena permintaan pasar yang
selalu meningkat, mbak Erna merekrut 3 temannya yaitu 2 perempuan dan 1
laki-laki untuk ikut gabung menjalankan usahanya. Semenjak kedatangan ketiga
temannya maka desain sepatu yang awalnya didesain oleh pihak pengrajin sepatu
kini didesain sendiri oleh tim secara bersama-sama. Mbak Erna beserta tim
belajar desain dari google dan referensi dari pengrajin sepatu yang
membantunya.
3
tahun berwirausaha, untuk pertama kalinya mbak Erna mengikuti pameran stand.
Dalam pameran tersebut mbak Erna kedatangan partner lain selain ketiga temannya
yakni 3 mahasiswa lain yang berasal dari fakultas dan jurusan lain. Mbak Erna
bisa menjual sekitar 40 pasang sepatu perbulannya. Harga sepatu minimal sepatu
wingkle shoes bekisar Rp. 155.000 sampai Rp. 180.000. Sedangkan harga maksimum
sepatu wingkle shoes bekisar Rp. 295.000 sampai Rp. 300.000 an Sistem
penjualannya melalui online dengan cara mengisi formulir pembelian yang
diberikan oleh admin medsos “wingkle shoes”. Dalam berwirausaha pastilah tidak
hanya keuntungan yang didapat tetapi kerugianpun juga bisa didapatkan. Menurut
penuturan mbak Erna, ia pernah ditipu oleh pelanggannya yang sudah memesan
sepatu seharga 200 ribu rupiah tetapi pelanggan tersebut enggan membayar sepatu
yang dibelinya, ada juga barang yang sudah dibeli oleh pelanggan dikembalikan
lagi karena kekecilan, dan dua partnernya perempuan dan laki-laki memutuskan
untuk tidak melanjutkan kerjasamanya lagi dengan Wingkle shoes. Sampai saat ini
partner yang masih bertahan berjumlah 5 orang termasuk pengrajin sepatu.
Dalam
berwirausaha pasti ada hambatan-hambatan yang menyertainya. Menurut mbak Erna
hambatan terbesarnya adalah malas baik dari faktor dalam diri sendiri dan dari pengrajin
sepatu. Faktor malas dari dalam diri sendiri disebabkan karena terlalu capek
dan monoton. Sedangkan faktor malas dari pengrajin sepatu adalah terlalu banyak
pesanan yang harus dikerjakan sedangkan waktu yang diberikan untuk
menyelesaikan produk sepatu tersebut harus sesuai dengan tanggal yang sudah
ditentukan. Jika ada faktor penghambat pasti ada cara untuk menghilangkan
hambatan-hambatan yang dihadapinya dengan cara memotivasi diri sendiri dan pengrajin
sepatu. Selain memotivasi diri sendiri dan pengrajin sepatu mbak Erna bersama
tim juga menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk bersedekah.
c.
Kegigihan dalam Menjalankan Usaha
Saat
ini semakin banyak orang Indonesia yang memulai berwirausaha pada usia muda.
Erna Dyah Krisnaningrum (24) sudah menekuni bisnis produksi
sepatu wanita sejak usia 20 tahun. Yang
semula meminjam modal usaha dari sang kakak sebesar Rp 800 ribu. Dalam
perkembangannya, total pinjaman menjadi Rp 3 juta. Karena banyak keperluan yang
ia butuhkan, seperti membeli alat menjahit sepatu dan bahan-bahan untuk
portofolio.Akhirnya usaha yang dia namai Winkle Shoes itu bisa balik modal.
Mbak Erna segera mengembalikan pinjaman kepada saudaranya. Hingga sekarang, ia
berketetapan tak meminjam modal kepada bank atau lembaga keuangan lain. Mbak
Erna ingin menghindari bunga yang ditentukan.Dalam menambah modal, ia pernah
mengajukan proposal kepada pemerintah."Alhamdulillah pernah mendapat
bantuan," imbuhnya.
Dia juga sering memanfaatkan
lomba-lomba usaha bagi pebisnis muda. Sekali dia menang sehingga mendapatkan
modal usaha sampai Rp 12 juta. Dalam sebulan, Mbak Erna bisa menjual sekitar 10
pasang sepatu. Dia membanderol harga alas kaki itu Rp 155 ribu-Rp 350 ribu. Sebagian
pendapatan dia tabung. Sisanya dia putarkan lagi. "Kalau konsumtif
ambilnya sedikit. Mending diputarkan lagi untuk pengembangan," terang
alumnus Undip ini. Mbak Erna memang selalu mengembangkan alat jahit dan bahan.
Dia ingin sepatunya makin berkualitas. Biaya pengembangan itu tak hanya untuk
membayar barang. Terkadang Mbak Erna harus pergi ke Jakarta, Bandung atau
Surabaya untuk mendapat bahan terbaik.Sisanya dia pakai untuk keperluan
branding. Di antaranya dengan membeli kardus dan kemasan plastik. Baru sisanya
dia tabung guna membangun impian membuat pabrik sepatu. Terkadang Erna terpaksa
mengambil tabungan jika ada keperluan usaha yang mendesak. Di antaranya untuk
menjaga image bisnis. Andai ada konsumen yang komplain akibat
kesalahan admin toko online Winkle, mbak Erna akan memberi pelayanan penuh. Dia
akan mengganti produk secara gratis tanpa biaya kirim. Kardus dan plastik
harus dipesan dalam jumlah besar. Modal awal yang dibutuhkan pun menjadi besar.
Bagi dia, inti dari usaha ini
membantu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Sekarang Erna memiliki
beberapa orang yang bekerja untuk Winkle Shoes. Ada seorang pengrajin sepatu
dan beberapa anggota tim admin toko online. Mbak Erna berencana merekrut
pegawai lagi sesuai kebutuhan bisnis.
Dalam
melakukan sesuatu hal pasti kita pernah mengalami jenuh. Tentu hal ini juga
pernah dirasakan oleh Mbak Erna, rasa jenuh yang ia rasakan saat merasa lelah ,
terkadang juga bosan karena hal-hal tentang sepatu yang banyak ia pikirkan.
Lantas apa yang Mbak Erna lakukan ketika ia merasa jenuh dan lelah ? Mbak Erna
mempunyai cara jitu untuk mengatasi hal tersebut yaitu tidur. Dengan tidur, ia
bisa melampiaskan seluruh jenuh dan lelahnya. Namun, mahasiswi lulusan
psikologi Undip ini tidak menyerah begitu saja, motivasi utama yang menjadi
penyemangatnya. Motivasi ingin menjadi orang kaya, karena menjadi orang kaya
itu kita bisa berbagi dengan sesama dan membantu orang yang membutuhkan. Dari setiap sepatu yang terjual, perempuan kelahiran
Semarang ini menyisihkan Rp 5.000. Uang tersebut setelah terkumpul banyak
dipergunakan membantu sesame, ia sedekahkan untuk orang-orang yang
membutuhkan. Mbak Erna merasa senang apabila ia bisa berbagi kepada sesama,Ia
tak pernah merasa rugi apabila selalu mengambil sebagian keuntungannya untuk
dibagikan kepada yang mebutuhkan, justru ia mbak Erna merasa bersyukur, ia
diberi kelebihan bisa membangun usaha dan hasil dari usahanya ia bisa berbagi .
Dia yakin berinfak tak akan membuatnya merugi.
Justru melalui cara ini, konsumen juga ikut beramal.
5
tahun sudah Mbak Erna berkarya , membangun usaha dengan penuh kerja keras dan
keuletan. Meskipun ayah Mbak Erna tidak menyetujuinya untuk menjadi pengusaha
sepatu, dan menginginkan Mbak Erna untuk menjadi PNS saja. Namun, ia pantang
menyerah untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa menjadi pengusaha sepatu
bukanlah hal yang biasa. Dengan usaha sepatunya, mbak erna akan membahagiakan
dan membanggakan orangtua maupun keluarganya.
Tak jarang pula dalam perjalanannya merintis
usaha, Mbak Erna mengalami suka dan duka. Mbak Erna pernah mendapat konsumen
yang tidak bertanggung jawab, sudah memesan dan mengambil barang , lalu
menjanjikan akan segera membayar , tetapi hingga waktu yang dijanjikan tiba ,
konsumen tersebut tidak juga membayar bahkan menghilang . Mbak Erna sudah
menghubunginya lewat sms, line dan sosial media lainnya , tetapi tidak ada
respon ataupun jawaban. Mbak Erna tetap sabar dan menjadikan kejadian tersebut
sebagai pelajaran untuknya agar tidak ceroboh lagi dan asal percaya terhadap
konsumen.
Alumnus
Undip ini, masih fokus pada usaha sepatu , ia belum memiliki keinginan untuk
membuat usaha lain. Karena , ia ingin usaha sepatu yang telah ia geluti menjadi
maju terlebih dahulu. Sampai saat ini, Mbak Erna belum membuka cabang. Ia masih
fokus menjual melalui sosial media Instagram
, bersama 3 partner marketingnya. Dan saat ditanya mengenai ada atau tidak
rencana untuk Go Internasional, ia menjawab pasti tetap ada rencana itu
dan let it flow aja , ungkap pengusaha
muda tersebut. Omset yang di dapat setiap bulannya mencapai 16 juta, Laba yang
ia dapatkan sekitar 30% nya kemudian dibagi rata oleh partner marketing dan
pengrajin sepatu. Pembagian hasil dilakukan setiap 1 kali pemesanan. Saat ini,
orderan yang ia terima meningkat menjadi 30 pasang sepatu setiap bulannya yang
semula hanya 10 pasang sepatu dalam satu bulan.
Dalam
menghadapi persaingan pasar , mbak Erna selalu memperhatikan marketingnya dan
kualitas barang produksi yang bagus. Dan ia bermodalkan fokus, percaya diri ,
berani menanggung resiko, dan pantang menyerah dalam menggeluti usahanya. Saran
dari Mbak Erna untuk kita yang berkeinginan menjadi wirausaha yaitu niat dan
kemauan diri yang mantap , modal uang bukanlah yang utama. Karena tanpa tekad
yang mantap kita tidak akan bisa menjalankan usaha. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar