Kamis, 12 Mei 2016

Untung MakNyus Bersama WinkleShoes

a.       Mengenal Sosok Erna Lebih Dekat
 Erna Dyah Kristyaningrum atau lebih akrab disapa Erna “Winkle” adalah bungsu dari empat bersaudara dari pasangan suami istri bapak Slamet Haryanto dan ibu Yenik Setyowati. Erna, dara kelahiran asli Semarang pada 26 November 1991 silam adalah pribadi yang ceria, fokus, agamis dan suka bercanda. Hari-harinya dilalui dengan semangat, tetapi jika sedang suntuk dengan kesehariannya, gadis ini lebih memilih tidur untuk mengakhiri kesuntukkannya. Erna sangat senang berkecimpung di dunia bisnis, hal ini bisa terlihat dari hobinya yang suka melakukan kegiatan jual-beli sejak sekolah dasar. Semakin beranjak dewasa, ide dara satu ini semakin matang dan tekad untuk mewujudkan sebuah usaha dibawah kaki tangannya sendiri semakin bulat. Hal ini pertama kali dilakukannya pada waktu dia telah lulus SMA, sembari mengisi liburan pasca ujian nasional dan pengumuman, Erna mencoba untuk main ke tempat sol sepatu dan meminta si tukang sepatu untuk membuatkannya sepasang sepatu yang sesuai dengan keinginan hatinya. Dari sinilah Erna mulai tertarik dengan dunia sepatu handmade yang dapat didesain sesuai keinginan dan hasil yang memuaskan. Hal ini yang melandasi Erna untuk membangun sebuah usaha. Erna memulai bisnis ini benar-benar dari nol, karena sejak bertemu dengan pengrajin sepatu itulah ia mulai belajar tentang dunia sepatu.
Sebelumnya, keluarga Erna juga pernah jatuh bangun dalam dunia perbisnisan, ayahnya seorang pegawai pajak dan ibunya seorang PNS mencoba untuk membangun bisnis ikan lele di daerah Tembalang, namun karena keberuntungan tak berpihak pada keluarga ini, akhirnya bisnis ini gulung tikar dengan cepat. Tak lama kemudian, kakak ketiganya mulai merintis juga bisnis es krim di daerah kampus UNDIP. Setelah masuk kesalah satu perguruan tinggi negeri di Semarang, Erna masih saja menggeluti dunia bisnis sepatu, meski dia fokus pada kuliahnya, belajar untuk berbisnis tidak ia tinggalkan. Di kampus, Erna termasuk aktivis karena dia mengikuti banyak organisasi seperti BEM KM, organisasi fakultas, dan HIMA jurusan. Meskipun dia sangat sibuk dalam berbagai hal, tetapi ia tetap memprioritaskan kuliah. Awal usaha, Erna meminjam uang sebesar Rp 800.000,00 ke kakakknya untuk modal pertamanya, seiring berjalannya waktu, bisnis semakin berkembang dan Erna pun meminjam lagi ke kakakknya sebesar Rp 3.000.000,00 guna mengembangkan sayap kesuksesannya. Erna mencoba memassarkan sepatu buatannya mulai dari lingkup terdekat seperti keluarga dan teman dekat. Tak disangka, dalam kurun waktu tiga bulan, Erna mulai kebanjiran pesanan. Erna pun mencari partner untuk menjalankan bisnis ini. Ditengah kebanjiran order, ayah Erna sangat tidak setuju dengan bisnis yang tengah dijalaninya. Ia dipaksa untuk berhenti menjalankan bisnis itu. Dengan bermodal yakin dan nekad, Erna meyakinkan kedua orang tuanya dengan mampu membagi waktu. Dan hal ini ditunjukkan dengan lulus tepat waktu S1 jurusan Psikologi UNDIP 2016 sembari menikmati puncak kesuksesannya di dunia bisnis.
Dalam sejarah perjuangan hidupnya,  Erna tidak pernah merasa malu untuk belajar dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut, dia juga tidak cepat merasa puas dengan hasil yang ia capai. Selain itu, membagi apa yang ia peroleh dengan yang membutuhkan selalu ia lakukan, karena ia yakin materi yang diberikan untuknya harus diamalkan agar lebih bermanfaat. Dirinya juga menambahkan bahwa hidup harus focus dengan satu tujuan agar tidak berantakan.
b.      Kisah Awal Mula Menjadi Pengusaha Sepatu
5 tahun yang lalu tepatnya tahun 2012 mbak Erna memulai usahanya berdagang sepatu online. Sebelum menjadi pengusaha sepatu online, mbak Erna sudah memiliki jiwa wirausaha semenjak masih duduk dibangku sekolah dasar. Dibangku sekolah dasar mbak Erna berjualan binder yang dijual kepada teman-temannya yang ada dilingkungan sekolah. Saat duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP) pada usia 15 tahun mbak Erna memulai usahanya dengan menjual makanan instant. Alasan ia berjualan makanan instant disamping kegemarannya berwirausaha  ada alasan lain yang mendorongnya untuk berjualan yakni terhimpit biaya. Saat memasuki bangku sekolah mengah atas (SMA), ia tidak melanjutkan kegemarannya berwirausaha karena ia fokus pada organisasinya yakni OSIS bidang wirausaha dan menjabat sebagai sekretaris. Sebelum usaha sepatu, keluarga mbak Erna memiliki usaha lele yang berada di Sekaran. Tetapi belum ada satu tahun usaha yang dikelola keluarganya bangkrut.
Awal mula menjadi pengusaha sepatu. Pada saat liburan kelulusan SMA sebelum memasuki bangku perkuliahan, mbak Erna ‘iseng’ main-main ke sol sepatu yang berada didaerah masjid agung Semarang. Ketika ia melihat proses pembuatan sepatu yang dilakukan oleh pengrajin sepatu ia tertarik membuat sepatu sendiri dan belajar membuat sepatu langsung dari pengrajin sepatu tersebut. akhirnya ia memutuskan untuk berwirausaha berdagang sepatu satu tahun setelah lulus SMA. Usaha sepatu yang ia dirikan berawal dari nol. Ketika sudah mulai masuk dunia perkuliahan ia sempat kesulitan untuk membagi waktu antara berwirausaha dan berorganisasi (BEM, organisasi fakultas, dan HIMA). Karena ia masih seorang pelajar jadi prioritas utamanya adalah kuliah dan prioritas kedua adalah berwirausaha. Modal awal yang ia keluarkan sekitar 800 sampai 3 juta. Modal awal tersebut ia dapatkan dari saudaranya. Awal pembuatan ia membuat 10 pasang sepatu, dan model sepatu berasal dari pengrajin sepatu. Pemasaran awal melalui teman ke teman dan saudara. Dengan cara melihatkan salah satu sampel foto sepatu yang ia produksi kepada teman-temannya dan saudaranya. Lambat laun orderan naik pesat ketika mbak Erna memasarkan produknya secara online. Karena permintaan pasar yang selalu meningkat, mbak Erna merekrut 3 temannya yaitu 2 perempuan dan 1 laki-laki untuk ikut gabung menjalankan usahanya. Semenjak kedatangan ketiga temannya maka desain sepatu yang awalnya didesain oleh pihak pengrajin sepatu kini didesain sendiri oleh tim secara bersama-sama. Mbak Erna beserta tim belajar desain dari google dan referensi dari pengrajin sepatu yang membantunya.
3 tahun berwirausaha, untuk pertama kalinya mbak Erna mengikuti pameran stand. Dalam pameran tersebut mbak Erna kedatangan partner lain selain ketiga temannya yakni 3 mahasiswa lain yang berasal dari fakultas dan jurusan lain. Mbak Erna bisa menjual sekitar 40 pasang sepatu perbulannya. Harga sepatu minimal sepatu wingkle shoes bekisar Rp. 155.000 sampai Rp. 180.000. Sedangkan harga maksimum sepatu wingkle shoes bekisar Rp. 295.000 sampai Rp. 300.000 an Sistem penjualannya melalui online dengan cara mengisi formulir pembelian yang diberikan oleh admin medsos “wingkle shoes”. Dalam berwirausaha pastilah tidak hanya keuntungan yang didapat tetapi kerugianpun juga bisa didapatkan. Menurut penuturan mbak Erna, ia pernah ditipu oleh pelanggannya yang sudah memesan sepatu seharga 200 ribu rupiah tetapi pelanggan tersebut enggan membayar sepatu yang dibelinya, ada juga barang yang sudah dibeli oleh pelanggan dikembalikan lagi karena kekecilan, dan dua partnernya perempuan dan laki-laki memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasamanya lagi dengan Wingkle shoes. Sampai saat ini partner yang masih bertahan berjumlah 5 orang termasuk pengrajin sepatu.
Dalam berwirausaha pasti ada hambatan-hambatan yang menyertainya. Menurut mbak Erna hambatan terbesarnya adalah malas baik dari faktor dalam diri sendiri dan dari pengrajin sepatu. Faktor malas dari dalam diri sendiri disebabkan karena terlalu capek dan monoton. Sedangkan faktor malas dari pengrajin sepatu adalah terlalu banyak pesanan yang harus dikerjakan sedangkan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan produk sepatu tersebut harus sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan. Jika ada faktor penghambat pasti ada cara untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang dihadapinya dengan cara memotivasi diri sendiri dan pengrajin sepatu. Selain memotivasi diri sendiri dan pengrajin sepatu mbak Erna bersama tim juga menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk bersedekah.
c.       Kegigihan dalam Menjalankan Usaha
Saat ini semakin banyak orang Indonesia yang memulai berwirausaha pada usia muda. Erna Dyah Krisnaningrum (24) sudah menekuni bisnis produksi sepatu wanita sejak usia 20 tahun.  Yang semula meminjam modal usaha dari sang kakak sebesar Rp 800 ribu. Dalam perkembangannya, total pinjaman menjadi Rp 3 juta. Karena banyak keperluan yang ia butuhkan, seperti membeli alat menjahit sepatu dan bahan-bahan untuk portofolio.Akhirnya usaha yang dia namai Winkle Shoes itu bisa balik modal. Mbak Erna segera mengembalikan pinjaman kepada saudaranya. Hingga sekarang, ia berketetapan tak meminjam modal kepada bank atau lembaga keuangan lain. Mbak Erna ingin menghindari bunga yang ditentukan.Dalam menambah modal, ia pernah mengajukan proposal kepada pemerintah."Alhamdulillah pernah mendapat bantuan," imbuhnya.
Dia juga sering memanfaatkan lomba-lomba usaha bagi pebisnis muda. Sekali dia menang sehingga mendapatkan modal usaha sampai Rp 12 juta. Dalam sebulan, Mbak Erna bisa menjual sekitar 10 pasang sepatu. Dia membanderol harga alas kaki itu Rp 155 ribu-Rp 350 ribu. Sebagian pendapatan dia tabung. Sisanya dia putarkan lagi. "Kalau konsumtif ambilnya sedikit. Mending diputarkan lagi untuk pengembangan," terang alumnus Undip ini. Mbak Erna memang selalu mengembangkan alat jahit dan bahan. Dia ingin sepatunya makin berkualitas. Biaya pengembangan itu tak hanya untuk membayar barang. Terkadang Mbak Erna harus pergi ke Jakarta, Bandung atau Surabaya untuk mendapat bahan terbaik.Sisanya dia pakai untuk keperluan branding. Di antaranya dengan membeli kardus dan kemasan plastik. Baru sisanya dia tabung guna membangun impian membuat pabrik sepatu. Terkadang Erna terpaksa mengambil tabungan jika ada keperluan usaha yang mendesak. Di antaranya untuk menjaga image bisnis. Andai ada konsumen yang komplain akibat kesalahan admin toko online Winkle, mbak Erna akan memberi pelayanan penuh. Dia akan mengganti produk secara gratis tanpa biaya kirim. Kardus dan plastik harus dipesan dalam jumlah besar. Modal awal yang dibutuhkan pun menjadi besar.
Bagi dia, inti dari usaha ini membantu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Sekarang Erna memiliki beberapa orang yang bekerja untuk Winkle Shoes. Ada seorang pengrajin sepatu dan beberapa anggota tim admin toko online. Mbak Erna berencana merekrut pegawai lagi sesuai kebutuhan bisnis.
Dalam melakukan sesuatu hal pasti kita pernah mengalami jenuh. Tentu hal ini juga pernah dirasakan oleh Mbak Erna, rasa jenuh yang ia rasakan saat merasa lelah , terkadang juga bosan karena hal-hal tentang sepatu yang banyak ia pikirkan. Lantas apa yang Mbak Erna lakukan ketika ia merasa jenuh dan lelah ? Mbak Erna mempunyai cara jitu untuk mengatasi hal tersebut yaitu tidur. Dengan tidur, ia bisa melampiaskan seluruh jenuh dan lelahnya. Namun, mahasiswi lulusan psikologi Undip ini tidak menyerah begitu saja, motivasi utama yang menjadi penyemangatnya. Motivasi ingin menjadi orang kaya, karena menjadi orang kaya itu kita bisa berbagi dengan sesama dan membantu orang yang membutuhkan. Dari setiap sepatu yang terjual, perempuan kelahiran Semarang ini menyisihkan Rp 5.000. Uang tersebut setelah terkumpul banyak dipergunakan membantu sesame, ia sedekahkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Mbak Erna merasa senang apabila ia bisa berbagi kepada sesama,Ia tak pernah merasa rugi apabila selalu mengambil sebagian keuntungannya untuk dibagikan kepada yang mebutuhkan, justru ia mbak Erna merasa bersyukur, ia diberi kelebihan bisa membangun usaha dan hasil dari usahanya ia bisa berbagi . Dia yakin berinfak tak akan membuatnya merugi. Justru melalui cara ini, konsumen juga ikut beramal.
5 tahun sudah Mbak Erna berkarya , membangun usaha dengan penuh kerja keras dan keuletan. Meskipun ayah Mbak Erna tidak menyetujuinya untuk menjadi pengusaha sepatu, dan menginginkan Mbak Erna untuk menjadi PNS saja. Namun, ia pantang menyerah untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa menjadi pengusaha sepatu bukanlah hal yang biasa. Dengan usaha sepatunya, mbak erna akan membahagiakan dan membanggakan orangtua maupun keluarganya.
 Tak jarang pula dalam perjalanannya merintis usaha, Mbak Erna mengalami suka dan duka. Mbak Erna pernah mendapat konsumen yang tidak bertanggung jawab, sudah memesan dan mengambil barang , lalu menjanjikan akan segera membayar , tetapi hingga waktu yang dijanjikan tiba , konsumen tersebut tidak juga membayar bahkan menghilang . Mbak Erna sudah menghubunginya lewat sms, line dan sosial media lainnya , tetapi tidak ada respon ataupun jawaban. Mbak Erna tetap sabar dan menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran untuknya agar tidak ceroboh lagi dan asal percaya terhadap konsumen.
Alumnus Undip ini, masih fokus pada usaha sepatu , ia belum memiliki keinginan untuk membuat usaha lain. Karena , ia ingin usaha sepatu yang telah ia geluti menjadi maju terlebih dahulu. Sampai saat ini, Mbak Erna belum membuka cabang. Ia masih fokus menjual melalui sosial media Instagram , bersama 3 partner marketingnya. Dan saat ditanya mengenai ada atau tidak rencana untuk Go Internasional, ia menjawab pasti tetap ada rencana itu dan  let it flow aja , ungkap pengusaha muda tersebut. Omset yang di dapat setiap bulannya mencapai 16 juta, Laba yang ia dapatkan sekitar 30% nya kemudian dibagi rata oleh partner marketing dan pengrajin sepatu. Pembagian hasil dilakukan setiap 1 kali pemesanan. Saat ini, orderan yang ia terima meningkat menjadi 30 pasang sepatu setiap bulannya yang semula hanya 10 pasang sepatu dalam satu bulan.
Dalam menghadapi persaingan pasar , mbak Erna selalu memperhatikan marketingnya dan kualitas barang produksi yang bagus. Dan ia bermodalkan fokus, percaya diri , berani menanggung resiko, dan pantang menyerah dalam menggeluti usahanya. Saran dari Mbak Erna untuk kita yang berkeinginan menjadi wirausaha yaitu niat dan kemauan diri yang mantap , modal uang bukanlah yang utama. Karena tanpa tekad yang mantap kita tidak akan bisa menjalankan usaha.